java trevel

Hadirnya islam tidak lain untuk menyalurkan kasih sayang Allah kepada makhluknya baik terhadap manusia, hewan maupun tumbuhan. Sejauh ini biasa dinamakan dengan Islam Rahmatan Lil’alamin. Makna Islam sendiri merupakan asal kata dari salama atau salima yang berarti damai, dengan demikian kita diajarkan untuk saling mengkasihi sesama makhluk dengan menjaga habluminallah, habluminannas maupun habluminal alam.

Sebagaimana firman Allah SWT, pada surat Al-Anbiya وما أرسلنك إلا رحمة للعلمين “Dan tiadalah Kami mengutusmu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam.” (Qs Al-Anbiya [21]: 107).

Nabi Muhammad diutus kepada seluruh umat manusia untuk menyampaikan risalah, dan mengenalkan rahmat Allah yang tiada terkira. Nabi Muhammad merupakan sosok pribadi yang sangat sederhana, santun, penyayang bahkan dalam sebuah hadis disebutkan bahwa beliaulah adalah rahmat yang dihadirkan oleh Allah kepada seluruh alam semesta sehingga Nabi memang diutus untuk menjadi suri tauladan bagi umat manusia,

Salah satu teladan Nabi Muhammad yang perlu kita terapkan yaitu melalui nikmat yang diberiakan oleh Allah yaitu nikmat makan. Makan merupakan anugerah besar yang diberikan Allah kepada makhluknya.

Sebagaimana Nabi telah mengajarkan doa akan makan yang sampai saat ini telah familiar didengar oleh orang dewasa maupun yang sering diucapkan oleh anak-anak pada bangku TPA

اَللّٰهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِيْمَا رَزَقْتَنَا وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

“Ya Allah, berkahilah kami dalam rezeki yang telah Engkau limpahkan kepada kami dan jauhkanlah kami dari siksa neraka.”

Makna dari lafadz اَللّٰهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِيْمَا رَزَقْتَنَا ialah agar kita harus senantiasa meminta keberkahan di setiap apa yang hendak kita makan dan segala rezeki yang kita peroleh. Karena keberkahan adalah sebuah kenikmatan yang tak terhingga.

Keberkahan sebuah rezeki yang kita peroleh tidaklah kelihatan, namun hal ini dapat kita rasakan. Kita akan merasa cukup dengan nikmat yang diberikan oleh Allah seberapapun nilainya dengan cara mensyukurinya dan ridha atas ketetapan Allah.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengingatkan kepada kita bahwa perut bukanlah wadah yang siap diisi apa saja sesuai keinginan kita. Sekalipun ia diisi, tidak boleh berlebihan sehingga melebihi batas kemampuannya, sebagaimana dalam hadits, “Keturunan Adam tidak dianggap menjadikan perutnya sebagai wadah yang buruk jika memenuhinya dengan beberapa suap yang dapat menegakkan tubuhnya. Karena itu, apa yang dia harus lakukan adalah sepertiga perutnya untuk makanan, sepertiga untuk minuman, dan sepertiga lagi untuk napas,” (HR Ahmad).

Pada hadis di atas kita diingtakan untuk tidak terlalu berlebihan dalam hal makan, jika makan sudah mendominasi pada diri kita akan menyebabkan dampak negative pada diri kita sendiri seperti halnya malas beraktivitas, malas beribadah, mengantuk dan menambah berat badan.

Selain itu nabi juga mengajarkan tidak makan ketika makanan masih panas karena hal ini dapat menghantaskan hilangnya keberkahan suatu makanan, makan dan minum dengan duduk dan tidak rakus terhadap makanan juga tidak menyia -nyiakan makanan.

sumber :

https://islam.nu.or.id/post/read/110259/pola-dan-cara-makan-rasulullah–1–



Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *