Disarikan dari Ibnu Abdillah Al-Katibiy

Gesmania, dalam tata kelola zakat fitrah dikenal istilah syarat wajib zakat fitrah yaitu syarat yang menyebabkan seseorang wajib melaksanakan zakat fitrah, sebelum mengerjakan ibadah itu sendiri.  Syarat wajib tersebut meliputi (a) beragama islam; (b) merdeka yaitu: bukan budak atau hamba sahaya; (c) mempunyai kelebihan makanan atau harta dari yang diperlukan pada malam dan siang hari raya, baik untuk keperluan dirinya sendiri maupun orang-orang yang wajib ditanggung nafkahnya;  (d) menemui waktu yang diwajibkan mengeluarkan zakat fitrah, yaitu menemui sebagian dari bulan Ramadhan dan sebagian dari awalnya bulan Syawwal (malam hari raya).

Yang dimaksud dengan “mempunyai kelebihan“ dalam pembicaraan zakat fitrah ini adalah kelebihan dari kebutuhan pokok sehari-hari; dengan demikian barang kebutuhan sehari-hari seperti: rumah yang layak, perkakas rumah tangga, pakaian sehari-hari dan lain-lain tidak menjadi perhitungan.  Kelebihan tersebut bisa berupa makanan, harta benda atau nilai uang.  Jika seseorang tidak mampu membayar zakat fitrah namun masih memiliki harta benda di atas, maka harta benda tersebut tidak wajib dijual guna mengeluarkan zakat.

Menyangkut soal waktu Gesmania, maksudnya kondisi seseorang saat bulan Ramadhan dan Syawwal serta waktu saat mengeluarkan zakat fitrah itu sendiri;  akan memunculkan 5 tingkatan hukum berzakat, yaitu: wajib (harus), jawaz (diperbolehkan), fadhilah (diutamakan), makruh (diperbolehkan namun lebih baik dihindari), dan haram (dilarang).  Seseorang yang menemui bulan Ramadhan dan menemui sebagian awalnya bulan Syawwal dia diwajibkan mengeluarkan zakat fitrah.  Sementara seseorang yang meninggal setelah masuk waktu maghrib malam 1 Syawwal juga wajib dizakati. Sedangkan bayi yang lahir setelah maghribnya malam 1 Syawwal, tidak wajib dizakati.

Waktu mengeluarkan zakat fitrah diperolehkan (jawaz) sejak awalnya bulan Ramadhan sampai memasuki waktu wajib (sebelum tenggelamnya matahari pada tanggal 1 Syawwal).  Waktu yang paling diutamakan (fadhilah) adalah setelah terbit fajar dan sebelum sholat hari raya.  Nah, bagaimana kalau mengeluarkan zakat fitrah setelah sholat hari raya sampai menjelang tenggelamnya matahari pada tanggal 1 Syawwal?  Jika tanpa ada alasan yang dibenarkan secara agama seperti menanti kerabat atau orang yang lebih membutuhkan, maka hal tersebut termasuk dalam kategori hukum makruh.  Makruh artinya masih diperbolehkan namun lebih baik dihindari.

Gesmania, jika tidak ada alasan (udzur) yang dibenarkan secara agama, seseorang baru mengeluarkan zakat fitrah setelah tenggelamnya matahari tanggal 1 Syawwal, maka hukumnya adalah haram (di larang secara agama).  Udzur yang diperkenankan tersebut seperti hartanya yang akan digunakan untuk zakat tidak ada ditempat tinggal tersebut, menunggu orang yang berhak menerima zakat;  jika ada udzur tersebut maka hukumnya tidak haram.  Sedangkan status dari zakat yang dikeluarkan tanggal 1 Syawwal tersebut adalah qadha’, artinya segera dibayarkan setelah alasan (udzur) terpenuhi.

Gesmania, kita masih punya bahasan tentang Tips Berzakat Fitrah dan Kelompok Penerima Zakat FItrah yang akan kita urai secara santai pada tulisan berikutnya.  Jangan takut menjadi pribadi yang kreatif, gaul, dan santun.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *